yah.... balikk lagiii!! dengan sejuta Ke-Gajeannn!!
gapapa deh,, daripada ga ada kerjaan ?
baiklah kali ini gue pengen nulis tentang "Tempat yang selalu Indah"
1. Langit
yep,, langit yang sealu Indah.. mau siang kek,, malam kek,, tetep ajah semuanya Indah!! wohohoho :D
Langit adalah bagian atas dari permukaan bumi, dan digolongkan sebagai lapisan tersendiri yang disebut atmosfer. Langit terdiri dari banyak gas dan udara, dengan komposisi berbeda di tiap lapisannya. Langit sering dilihat berwarna biru, disebabkan karena pemantulan cahaya, tetapi tidak tertutup kemungkinan bahwa langit bisa berwarna selain itu, misalnya merah ketika senja, atau hitam saat turun hujan. Langit itu...
Damai.... :')
kadang kita selalu bertanya.... kenapa langit malam Gelap ?
Mula-mula kita akan berpikir bahwa tentu saja malam hari gelap karena matahari tidak tampak. Namun kita tahu bahwa matahari hanyalah satu buah bintang, sementara terdapat jutaan, miliaran, bahkan triliunan bintang-bintang lain di semesta. Galaksi kita memiliki 200 miliar bintang, dan semesta berisi lebih dari 100 miliar galaksi. Sebagian besar di antara bintang-bintang itu memancarkan cahaya. Seharusnya cahaya dari semua bintang itu cukup untuk membuat langit tetap cerah di malam hari!
Beberapa ilmuwan sempat membayangkan bahwa mungkin ada debu-debu atau partikel-partikel di ruang hampa antar galaksi yang dengan cara tertentu akan menyerap cahaya. Namun hipotesis ini menghasilkan masalah baru. Jika debu-debu angkasa itu menyerap energi cahaya, energi itu akan tersimpan dalam jumlah yang makin besar, dan akan harus dipancarkan kembali dalam bentuk cahaya dan panas seperti bintang-bintang itu lagi.
Di abad ke-20, mulai ada penemuan-penemuan yang membuat kita lebih memahami semesta kita. Bintang-bintang yang jauh, biarpun berukuran energi yang sama, tampak lebih merah daripada bintang-bintang yang relatif lebih dekat. Ini cukup menarik. Kalau kita ingat spektrum cahaya, warna merah adalah warna dengan panjang gelombang terbesar. Memerahnya bintang-bitang yang jauh membuat para ilmuwan menduga bahwa bintang-bintang itu bukan hanya jauh, tetapi terus menjauh dari kita.
Coba ingat efek yang disebut efek Doppler. Pada saat sebuah mobil bergerak kencang mendekat ke arah kita, suara desisnya meninggi. Tetapi saat mobil itu telah melewati kita, dia akan menjauh, dan suara desisnya merendah. Panjang gelombang suara mobil yang mendekati kita memendek, dan panjang gelombang suara mobil yang menjauhi kita memanjang. Namun efek Doppler tidak hanya berlaku pada gelombang suara. Efek ini berlaku juga pada gelombang cahaya, jika gerak sumber-sumber cahayanya cukup tinggi. Lalu para ilmuwan mulai berdebat: mengapa bintang-bintang itu menjauhi kita? Debat panjang para fisikawan dan kosmolog ini menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang turut mewarnai revolusi fisika di abad ke-20.
Inti kesimpulannya: alam semesta kita tidak diam, melainkan mengembang. Karena semesta mengembang, maka galaksi-galaksi yang ada di dalamnya terus menjauh. Karena bintang-bintang saling menjauh, maka cahaya bintang-bintang itu memanjang saat melintasi ruang-ruang hampa antar bintang.
Namun jika alam semesta mengembang, maka artinya di zaman dahulu semesta ini berukuran lebih kecil daripada sekarang. Dan dari banyak kesimpulan ini kemudian ditarik kesimpulan besar: alam semesta ini pernah lahir dari satu titik saja, yang kemudian disebut dengan big bang.
Big bang bisa jadi cerita panjang dan menarik. Tapi kita sedang berfokus hanya pada langit malam yang gelap. Maka dari ulasan di atas, kita catat beberapa faktor yang membuat malam kita menjadi gelap (tetapi tetap indah):
- Semesta lahir dari satu titik, lalu mengembang. Maka ukuran semesta tidak tak terbatas. Maka jumlah bintang pun tidak tak terbatas. Cukup wajar bahwa cahayanya pun mungkin tak cukup untuk membuat kita silau 24 jam.
- Semesta kita masih terus mengembang. Sebagian besar bintang-bintang yang jauh, yang jumlahnya banyak sekali, mungkin cahayanya tidak pernah mencapai mata kita, karena jaraknya terus bertambah.
- Mengembangnya semesta membuat jarak antara kita dengan bintang-bintang yang jauh itu semakin jauh. Gerak menjauh dari bintang-bintang itu membuat cahayanya memanjang, memerah, lalu bergeser lebih jauh dari warna merah, yaitu gelombang yang bukan cahaya. Artinya kita tidak akan melihatnya sebagai cahaya.
Hanya dengan mencari faktor-faktor yang menyebabkan langit malam gelap, kita akhirnya dapat memahami sejarah semesta kita, bagaimana semesta dilahirkan, dan bagaimana semesta kita masih terus berkembang.
Laut...
Laut yang selalu Indah seperti langit.. haha :)
mau malam, siang,, tetep aja indah...
laut iru misteri,,, di permukaan tampak tenang,, tapi tak pernah ada yang tahu kalau ia menyimpan sejuta misteri di dalam perutnya,...
Laut, menurut sejarahnya, terbentuk 4,4 milyar tahun yang lalu, dimana awalnya bersifat sangat asam dengan air yang mendidih (dengan suhu sekitar 100 °C) karena panasnya Bumi pada saat itu. Asamnya air laut terjadi karena saat itu atmosfer Bumi dipenuhi oleh karbon dioksida. Keasaman air inilah yang menyebabkan tingginya pelapukan yang terjadi yang menghasilkan garam-garaman yang menyebabkan air laut menjadi asin seperti sekarang ini. Pada saat itu, gelombang tsunami sering terjadi karena seringnya asteroid menghantam Bumi. Pasang surut laut yang terjadi pada saat itu juga bertipe mamut atau tinggi/besar sekali tingginya karena jarak Bulan yang begitu dekat dengan Bumi.
Awal mula
Menurut para ahli, awal mula laut terdiri dari berbagai versi; salah satu versi yang cukup terkenal adalah bahwa pada saat itu Bumi mulai mendingin akibat mulai berkurangnya aktivitas vulkanik, disamping itu atmosfer bumi pada saat itu tertutup oleh debu-debu vulkanik yang mengakibatkan terhalangnya sinar Matahari untuk masuk ke Bumi. Akibatnya, uap air di atmosfer mulai terkondensasi dan terbentuklah hujan. Hujan inilah (yang mungkin berupa hujan tipe mamut juga) yang mengisi cekungan-cekungan di Bumi hingga terbentuklah lautan.
Secara perlahan-lahan, jumlah karbon dioksida yang ada diatmosfer mulai berkurang akibat terlarut dalam air laut dan bereaksi dengan ion karbonat membentuk kalsium karbonat. Akibatnya, langit mulai menjadi cerah sehingga sinar Matahari dapat kembali masuk menyinari Bumi dan mengakibatkan terjadinya proses penguapan sehingga volume air laut di Bumi juga mengalami pengurangan dan bagian-bagian di Bumi yang awalnya terendam air mulai kering. Proses pelapukan batuan terus berlanjut akibat hujan yang terjadi dan terbawa ke lautan, menyebabkan air laut semakin asin.
Pada 3,8 milyar tahun yang lalu, planet Bumi mulai terlihat biru karena laut yang sudah terbentuk tersebut. Suhu bumi semakin dingin karena air di laut berperan dalam menyerap energi panas yang ada, namun pada saat itu diperkirakan belum ada bentuk kehidupan di bumi.
Kehidupan di Bumi, menurut para ahli, berawal dari lautan (life begin in the ocean). Namun demikian teori ini masih merupakan perdebatan hingga saat ini.
Pada hasil penemuan geologis di tahun 1971 pada bebatuan di Afrika Selatan (yang diperkirakan berusia 3,2 s.d. 4 milyar tahun) menunjukkan adanya fosil seukuran beras dari bakteri primitif yang diperkirakan hidup di dalam lumpur mendidih di dasar laut. Hal ini mungkin menjawab pertanyaan tentang saat-saat awal kehidupan dan di bagian lautan yang mana terjadi awal kehidupan tersebut. Sedangkan kelautan itu sendiri adalah ilmu yang mempelajari berbagai biota atau makhluk hidup di laut yang perlu dimanfaatkan melalui usaha perikanan.
hahaha... :D
Impian yang terselip :
untuk sekarang ini gue pengen banget liat laut,, semoga liburan kali ini terwujud.. amieenn..
Makasih m&m..
makasih Riani yang pinter banget!! (Gaje')





Tidak ada komentar:
Posting Komentar